Saya akan mengiyakan: saya adalah salah satu orang yang dibodohi oleh antuisasme pesta sepakbola setiap empat tahun, tergoda oleh arak-arakan berwarna-warni, udara kosmpolitan, nostalgia dengan permainan yang saya mainkan ketika kecil dulu, dan kebanggaan sentimentil yang menjijikan/mengganggu di lingkungan saya. saya tidak kehilangan kemampuan kritis saya, tapi saya tidak bisa menolong apa-apa. Kecintaan akan Piala Dunia sambil mengakui korupsinya, memperdalam kemiskinan dan eksploitasi, dan berbagai isu sosial politik yang serius lain yang mengelilinginya. Dan sebagai seorang American, hal yang cukup mudah untuk menjaga jarak antara olaharaga itu sendiri dengan kefanatikan Jingoistic dan kekerasan -Hooliganism sentimentil- yang selalu hadir dalam setiap permainan di bagian manapun di dunia.

Di Argentina, layaknya negara penggila sepakbola lainnya dengan jurang sosial yang dalam, kejahatan antar geng adalah bagian yang sering terjadi dalam sepakbola. Borges menemukan hal ini mustahil untuk dipisahkan dari budaya supporter sepakbola, sekali waktu dideklarasikan, “Sepakbola begitu populer karena kebodohan populer pula”. Seperti yang Shaj Mathew tulis dalam The New Republic, penulis mengasosiasikan maniaknya masyarakat sepakbola dengan semangat massa fasisme atau nasionalisme dogmatis. “Nasionalisme”, ia menulis “hanya memungkinkan oleh afirmasi, dan setiap doktrin menghilangkan keraguan, negasi, dan bentuk fanatisme juga kebodohan”. Seperti yang Mathew kemukakan, timnas sepakbola dan bintangnya seringkali menjadi alat otoriter dari rezim yang “mengambil keuntungan dari obligasi yang penggemar bagi dengan tim nasional mereka untuk menggalang dukungan populer [….] Ini adalah apa Borges ditakuti dan dibenci–tentang olahraga.”

 

There is certainly a sense in which Borges’ hatred of soccer is also indicative of his well-known cultural elitism (despite his romanticizing of lower-class gaucho life and the once-demimonde tango). Outside of the hugely expensive World Cup, the class dynamics of soccer fandom in most every country but the U.S. are fairly uncomplicated. New Republic editor Foer summed it up succinctly in How Soccer Explains the World: “In every other part of the world, soccer’s sociology varies little: it is the province of the working class.” (The inversion of this soccer class divide in the U.S., Foer writes, explains Americans’ disdain for the game in general and for elitist soccer dilettantes in particular, though those attitudes are rapidly changing). If Borges had been a North, rather than South, American, I imagine he would have had similar things to say about the NFL, NBA, NHL, or NASCAR.

Nonetheless, being Jorge Luis Borges, the writer did not simply lodge cranky complaints, however politically astute, about the game. He wrote a speculative story about it with his close friend and sometime writing partner Adolfo Bioy Casares. In “Esse Est Percipi” (“to be is to be perceived”), we learn that soccer has “ceased to be a sport and entered the realm of spectacle,” writes Mathews: “representation of sport has replaced actual sport.” The physical stadiums crumble, while the games are performed by “a single man in a booth or by actors in jerseys before the TV cameras.” An easily duped populace follows “nonexistent games on TV and the radio without questioning a thing.”

The story effectively illustrates Borges’ critique of soccer as an intrinsic part of a mass culture that, Mathews says, “leaves itself open to demagoguery and manipulation.” Borges’ own snobberies aside, his resolute suspicion of mass media spectacle and the coopting of popular culture by political forces seems to me still, as it was in his day, a healthy attitude. You can read the full story here, and an excellent critical essay on Borges’ political philosophy here.

Advertisements