Tags

Dia adalah kata yang selalu di dengungkan mereka yang bergelut dalam dunia bisnis, dia adalah kata yang selalu di teriakan para motivator-motivator dari kelas teri sampai kelas kakap, dia adalah kata yang selalu disertakan dalam doa oleh orang dekat kita, dan dia adalah kata yang selalu ada dalam pamflet bagi orang yang ingin cepat kaya dan berhasil. Lalu siapakah dia? Ya dia adalah: Sukses.

Apa yang salah dengan kata itu? tidak ada yang salah sebenarnya yang salah makna dan kesan di masyarakat. Mereka tidak mengartikan dan memaknai kesuksesan dengan yang seharusnya, sukses telah dimaknai lebih sempit. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sukses memiliki arti: berhasil; beruntung.

Namun masyarakat kita telah mengartikannya lebih sempit, sukses atau kesuksesan sekarang lebih banyak dimaknai keberhasilan dalam memperoleh materi, dalam artian seseorang dikatakan sukses bilamana seseorang menjadi kaya atas hasil kerjanya atau hasil keberuntungannya. Sukses lebih mengarah pada seseorang yang bergerak dalam bisnis dan ekonomi, tidak ada kata sukses bagi mereka yang merawat pasien di rumah sakit walaupun semua pasiennya dapat diselamatkan dan disembuhkan, tidak ada kesuksesan bagi mereka yang setiap hari membersihkan sampah dijalanan walaupun atas jasa mereka jalan menjadi lebih bersih, enak dipandang dan membuat kita nyaman bahkan sampai meraih adipura pula. tidak ada kesuksesan bagi mereka yang menjaga rumah dari kedatangan tamu tak diundang walaupun selama puluhan tahun bekerja tidak ada satupun maling yang menyatroni rumahnya. Tidak ada kesuksesan bagi mereka, karena akhirnya mereka tidak mendapatkan banyak uang, mereka tidak mendulang emas dari sana.

Orang-orang akan memberi selamat dan menganggap sukses kepada mereka yang berhasil menjadi pejabat pemerintahan setelah dipilih masyarakat walaupun mereka belum bekerja sama sekali, jangankan sampai membuahkan prestasi. Pun di lingkungan akademik, mahasiswa yang sehari-harinya selalu rajin datang, aktivis kampus dan selalu mendapatkan IPK tertinggi tidak akan dikatakan sukses tetapi cukup berhasil. Mahasiswa sukses hanya disematkan pada mereka yang mempunyai kegiatan sampingan berbau bisnis yang menghasilkan uang dan membuat hidup dan martabatnya naik, meskipun nilai akademiknya tidak terlalu bagus dan tidak aktif pada kegiatan mahasiswa.

Seseorang yang dianggap sukses akan banyak dihargai oleh sekelilingnya. Masyarakat kita akan memberi perhatian dan penghargaan bila ada seseorang yang disebut “orang sukses” dengan kriteria yang sempit tadi. Mungkin inilah cikal bakal mengapa masyarakat kita tidak menghargai seseorang yang bekerja kasar, seperti tukang sapu, tukang sampah dan lain sebagainya. Karena di mata kita orang yang mempunyai pekerjaan seperti itu hanyalah orang biasa atau malah orang rendahan. Padahal jasa dan kerja yang telah ia lakukan mendekati sempurna. Bisa kita bayangkan bilamana tukang sapu yang memiliki track record bagus dalam pekerjaannya disebut tukang sapu yang sukses, bisa saja masyarakat akan lebih menghargai profesi dan jalan hidup yang ia pilih, walaupun pekerjaan itu lebih mengutamakan fisik daripada otak. Kita harus menyadari pentingnya hal kecil semacam itu, jangan sampai pikiran kita terkekang dalam otak materialistis saja.

Hal ini juga bisa saja mempengaruhi dunia pendidikan di negara ini. Harga mahal yang harus dikeluarkan orang tua untuk memasukan anaknya ke dalam lembaga pendidikan itu karena mereka masih beranggapan kesuksesan hanya bisa diraih dengan bersekolah tinggi, mempunyai otak encer dan memiliki ijazah sarjana. Padahal tidak semua yang pintar berguna bukan?? Bahkan banyak yang pintar menyalahgunakan kepintarannya itu untuk berbuat jahat, akhirnya ia dikatakan sukses juga, sukses sebagai koruptor. Juga banyak mereka yang bersekolah tinggi tapi tidak memiliki kemampuan yang seharusnya dimiliki dengan kata lain apa yang ia pelajari tidak sebanding dengan kemampuannya.

karena itulah penulis sering merasa jengah ketika melihat seminar motivaso, seminar menuju kesuksesan, 40 hari sukses berwirausaha dan lain sebagainya. Karena mereka cenderung mengarahkan dan menanamkan mainstream kesuksesan yang sempit dan salah. Training-training seperti tadi seharusnya menumbuhkan kebanggan atas yang ia punya dan mengembangkannya, menjadi diri sendiri tentunya lebih sulit daripada kita mengikuti orang lain bukan? Ketika kalangan miskin masih menganggap hidup enak ketika dia telah meraih sukses, maka selama itu pula orang-orang meraih kekayaan, bukan kebahagiaan hidup yang hakiki.

Advertisements